Era Pencerahan (renaisans) melahirkan begitu banyak manusia-manusia pemikir cerdas karena para pelopornya menyadari bahwa untuk membuat kehidupan lebih bermakna dan berkualitas, manusia harus hidup berbaur dengan keindahan. Melalui keindahan inilah, manusia didorong untuk sadar berpikir, berkarya, dan terus meningkatkan kualitas hidupnya.
Tak ayal, dapat ditemukan begitu banyak karya seni yang termahsyur pada era ini, bahkan arsitektur-arsitekturnya pun begitu sarat makna, karena semuanya ditujukan untuk memantik api inspirasi manusia-manusia yang melihatnya. Dengan melihat keindahan, imaginasi seseorang menjadi liar yang mendorong mereka untuk tidak hanya punya visi, tetapi berusaha menjadikan visi tersebut menjadi sebuah realitas.
Era renaisans secara umum diyakini oleh sejarawan dimulai di Florence sekitar tahun 1350 hingga 1400. Hal tersebut sekaligus menandakan berakhirnya Abad Pertengahan. Florence, yang kini menjadi ibukota wilayah Tuscany Italia, adalah rumah bagi banyak karya seni dan arsitektur renaisans.
Era keemasan pembangunan di Florence dimulai setelah Michelozzo di Bartolomeo salah satu dari arsitek favorit pempimpin Florence kala itu, Cosimo de Medici, merampungkan rumah keluarga: Palazzo Medici, tepat di dekat katedral kota. Michelozzo yang telah mempelajari benda-benda antik Romawi dengan cermat dan ketinggian tripartit bangunan dengan indah mengekspresikan semangat renaisans yang khas secara rasional, teratur, dan harmonis.
Selain itu, arsitek-arsitek seperti Leon Battista Alberti dan Brunelleschi juga turut merampungkan bangunan-bangunan seperti bagian depan katedral, alun-alun, air mancur dan jalan-jalan. Hal yang sama juga terjadi di kota-kota besar renaisans lainnya yaitu Siena, Venice, Urbino, Mantua dan Roma. Pemimpin-pemimpin kota di semenanjung Italia sangat jatuh cinta dengan ide baru yang cemerlang untuk menjadikan keindahan yang tak tertandingi sebagai fokus utama kota-kota mereka.
Urbanisme yang sukses tidak pernah merupakan sebuah kebetulan. Bagi era renaisans, itu merupakan sebuah misi filosofis. Renaisans membangun kota-kota megah nan indah karena sebuah ide: bahwa karakter sebuah masyarakat dibentuk oleh karakter bangunan di sekitarnya. Memastikan ranah publik lebih mementingkan martabat dan ketenangan ketimbang sekadar kemewahan.
Terlebih lagi, kaum urban dan arsitek renaisans meyakini sebuah aturan. Mereka tidak semerta-merta ingin mewujudkan sebuah kota yang megah nan indah. Mereka menulis jilid-jilid yang mengodifikasi aturan-aturan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari dalam upaya mereka mensistematisasikan secara cermat bagaimana membuat sudut jalan, trotoar, atau bangku yang baik.
Kaum urban dan arsitek renaisans sepakat sebuah pemukiman harus dilengkapi sebuah alun-alun persegi sebagai tempat berkumpul warga. Alun-alun persegi yang cukup luas namun tidak memisahkan bangunan yang satu dengan lainnya, sehingga seorang anak yang bermain di alun-alun masih dapat mendengarkan suara ibunya yang memanggil dari atas balkon. Alun-alun persegi ini harus dilengkapi air mancur besar di tengahnya sebagai fokus utama, namun bangunan disekelilingnya dibuat sesederhana mungkin. Inilah salah satu alasan yang membuat tempat-tempat di Benua Biru sangat identik dengan air mancurnya yang megah.
Pemimpin-pemimpin renaisans seperti Medici dikenal terilhami akan ungkapan Sallust, seorang sejarawan Romawi kuno yang mengatakan “Pubilce egestas privatim opulentia”, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan “Kualitas publik kemewahan pribadi”. Sallust dan para pemimpin renaisans sangat menganut ide bahwa dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, ruang publik harus dibuat megah nan indah, juga rapih, sehingga sedap dipandang. Dengan cara ini, orang-orang kaya di masyarakat tidak menarik diri dan dapat berbaur dengan golongan masyarakat lainnya sehingga tercipta sebuah keharmonisan.
Saat ini, dunia kita telah banyak mengalami perubahan dan penyesuaian akan era modern yang serba canggih namun terbatas. Jika arsitektur renaisans memfokuskan pada keindahan dan kemegahan yang mendetail, arsitektur modern memfokuskan pada teknologi dan keminimalisan. Pembangunan apartemen baja yang menjulang di kota-kota besar dunia bukanlah tanpa sebab, melainkan karena kurangnya sumber daya alam dan juga lahan. Kita tidak lagi membangun pemukiman secara horizontal melainkan vertikal.
Hal ini tentunya datang dengan berbagai konsekuensi. Kehidupan masyarakat modern menjadi suram. Manusia-manusianya dituntut untuk menjalani kehidupan yang individual. Orang kaya tidak lagi berbaur dengan orang miskin, anak-anak tidak lagi memiliki lahan untuk bermain, membuat kesenjangan sangat terasa. Ruang publik memang masih tersedia, namun sangat eksklusif dan terbatas. Hanya perumahan dan apartemen mewah yang memiliki ruang publik dengan segala kelengkapannya, namun sering berakhir tidak terpakai karena kebanyakan dari penghuninya begitu sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedangkan pemukiman padat tidak lagi memiliki lahan luas yang tersedia karena habis digunakan untuk membangun rumah.
Sebut saja negara kita, Indonesia. Kehidupan warga Jakarta tentunya sangat berbeda dengan Bali. Walau sarat akan gemerlap hingar bingar serta gedung pencakar langitnya, warga Jakarta amat sangat kelelahan dan suntuk. Hal tersebut diakibatkan karena setelah bekerja seharian, mereka tidak punya tempat yang layak untuk melepas penat dan mengistirahatkan pikiran, pilihan mereka selalu berakhir hanya antara mall dan kedai kopi. Berbeda dengan Bali, bangunan-bangunan yang masih sarat dan kental dengan kebudayaan amat sangat mudah ditemukan, begitu pula dengan ruang terbuka yang lingkungannya asri masih banyak tersedia. Hal ini membuat kehidupan masyarakat Bali terbilang tentram dan damai karena mereka berkesempatan mengistirahatkan pikiran mereka.
Dikutip dari Better Mental Health Magazine, kehidupan kota, baik di jantung kota atau di pinggiran kota, masih menjadi penyumbang terbesar akan kehidupan yang penuh tekanan daripada hidup di daerah pedesaan. Sebuah studi Scientific America menemukan bahwa "orang yang tinggal di kota lebih cenderung memiliki gangguan mood atau kecemasan". Dengan lebih dari setengah populasi dunia yang tinggal di kota, kehidupan di kota, terkhusus kota-kota besar seharusnya menjadi perhatian besar. Utamanya pada ruang publik dengan akses yang mudah, nyaman, dan dengan keindahan yang sebisa mungkin dapat memanjakan mata dan menghilangkan penat warganya.
Era renaisans mungkin telah lama berakhir, namun terdapat amat sangat banyak pelajaran yang bisa kita terapkan di kehidupan modern dewasa ini. Salah satunya dengan pembangunan yang mementingkan kepentingan bersama dan dalam menemukan makna kehidupan di balik sebuah keindahan. Era renaisans mengedepankan kemajuan berbasis memanusiakan manusia, orang-orang menjadi saling berbaur dan bahu-membahu membangun kehidupan komunal yang harmonis dan sarat makna. Di zaman sekarang, era modern berbasis teknologi dan digital mengedepankan kecepatan, namun mengeliminasi upaya-upaya baik dan tidak lagi mementingkan keindahan dalam menemukan makna. Akibatnya, masyarakatnya harus menjalani kehidupan individual yang sarat kesenjangan dan merasa terkucilkan.
Tak ayal, dapat ditemukan begitu banyak karya seni yang termahsyur pada era ini, bahkan arsitektur-arsitekturnya pun begitu sarat makna, karena semuanya ditujukan untuk memantik api inspirasi manusia-manusia yang melihatnya. Dengan melihat keindahan, imaginasi seseorang menjadi liar yang mendorong mereka untuk tidak hanya punya visi, tetapi berusaha menjadikan visi tersebut menjadi sebuah realitas.
Era renaisans secara umum diyakini oleh sejarawan dimulai di Florence sekitar tahun 1350 hingga 1400. Hal tersebut sekaligus menandakan berakhirnya Abad Pertengahan. Florence, yang kini menjadi ibukota wilayah Tuscany Italia, adalah rumah bagi banyak karya seni dan arsitektur renaisans.
Era keemasan pembangunan di Florence dimulai setelah Michelozzo di Bartolomeo salah satu dari arsitek favorit pempimpin Florence kala itu, Cosimo de Medici, merampungkan rumah keluarga: Palazzo Medici, tepat di dekat katedral kota. Michelozzo yang telah mempelajari benda-benda antik Romawi dengan cermat dan ketinggian tripartit bangunan dengan indah mengekspresikan semangat renaisans yang khas secara rasional, teratur, dan harmonis.
Selain itu, arsitek-arsitek seperti Leon Battista Alberti dan Brunelleschi juga turut merampungkan bangunan-bangunan seperti bagian depan katedral, alun-alun, air mancur dan jalan-jalan. Hal yang sama juga terjadi di kota-kota besar renaisans lainnya yaitu Siena, Venice, Urbino, Mantua dan Roma. Pemimpin-pemimpin kota di semenanjung Italia sangat jatuh cinta dengan ide baru yang cemerlang untuk menjadikan keindahan yang tak tertandingi sebagai fokus utama kota-kota mereka.
Urbanisme yang sukses tidak pernah merupakan sebuah kebetulan. Bagi era renaisans, itu merupakan sebuah misi filosofis. Renaisans membangun kota-kota megah nan indah karena sebuah ide: bahwa karakter sebuah masyarakat dibentuk oleh karakter bangunan di sekitarnya. Memastikan ranah publik lebih mementingkan martabat dan ketenangan ketimbang sekadar kemewahan.
Terlebih lagi, kaum urban dan arsitek renaisans meyakini sebuah aturan. Mereka tidak semerta-merta ingin mewujudkan sebuah kota yang megah nan indah. Mereka menulis jilid-jilid yang mengodifikasi aturan-aturan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari dalam upaya mereka mensistematisasikan secara cermat bagaimana membuat sudut jalan, trotoar, atau bangku yang baik.
Kaum urban dan arsitek renaisans sepakat sebuah pemukiman harus dilengkapi sebuah alun-alun persegi sebagai tempat berkumpul warga. Alun-alun persegi yang cukup luas namun tidak memisahkan bangunan yang satu dengan lainnya, sehingga seorang anak yang bermain di alun-alun masih dapat mendengarkan suara ibunya yang memanggil dari atas balkon. Alun-alun persegi ini harus dilengkapi air mancur besar di tengahnya sebagai fokus utama, namun bangunan disekelilingnya dibuat sesederhana mungkin. Inilah salah satu alasan yang membuat tempat-tempat di Benua Biru sangat identik dengan air mancurnya yang megah.
Pemimpin-pemimpin renaisans seperti Medici dikenal terilhami akan ungkapan Sallust, seorang sejarawan Romawi kuno yang mengatakan “Pubilce egestas privatim opulentia”, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan “Kualitas publik kemewahan pribadi”. Sallust dan para pemimpin renaisans sangat menganut ide bahwa dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, ruang publik harus dibuat megah nan indah, juga rapih, sehingga sedap dipandang. Dengan cara ini, orang-orang kaya di masyarakat tidak menarik diri dan dapat berbaur dengan golongan masyarakat lainnya sehingga tercipta sebuah keharmonisan.
Saat ini, dunia kita telah banyak mengalami perubahan dan penyesuaian akan era modern yang serba canggih namun terbatas. Jika arsitektur renaisans memfokuskan pada keindahan dan kemegahan yang mendetail, arsitektur modern memfokuskan pada teknologi dan keminimalisan. Pembangunan apartemen baja yang menjulang di kota-kota besar dunia bukanlah tanpa sebab, melainkan karena kurangnya sumber daya alam dan juga lahan. Kita tidak lagi membangun pemukiman secara horizontal melainkan vertikal.
Hal ini tentunya datang dengan berbagai konsekuensi. Kehidupan masyarakat modern menjadi suram. Manusia-manusianya dituntut untuk menjalani kehidupan yang individual. Orang kaya tidak lagi berbaur dengan orang miskin, anak-anak tidak lagi memiliki lahan untuk bermain, membuat kesenjangan sangat terasa. Ruang publik memang masih tersedia, namun sangat eksklusif dan terbatas. Hanya perumahan dan apartemen mewah yang memiliki ruang publik dengan segala kelengkapannya, namun sering berakhir tidak terpakai karena kebanyakan dari penghuninya begitu sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedangkan pemukiman padat tidak lagi memiliki lahan luas yang tersedia karena habis digunakan untuk membangun rumah.
Sebut saja negara kita, Indonesia. Kehidupan warga Jakarta tentunya sangat berbeda dengan Bali. Walau sarat akan gemerlap hingar bingar serta gedung pencakar langitnya, warga Jakarta amat sangat kelelahan dan suntuk. Hal tersebut diakibatkan karena setelah bekerja seharian, mereka tidak punya tempat yang layak untuk melepas penat dan mengistirahatkan pikiran, pilihan mereka selalu berakhir hanya antara mall dan kedai kopi. Berbeda dengan Bali, bangunan-bangunan yang masih sarat dan kental dengan kebudayaan amat sangat mudah ditemukan, begitu pula dengan ruang terbuka yang lingkungannya asri masih banyak tersedia. Hal ini membuat kehidupan masyarakat Bali terbilang tentram dan damai karena mereka berkesempatan mengistirahatkan pikiran mereka.
Dikutip dari Better Mental Health Magazine, kehidupan kota, baik di jantung kota atau di pinggiran kota, masih menjadi penyumbang terbesar akan kehidupan yang penuh tekanan daripada hidup di daerah pedesaan. Sebuah studi Scientific America menemukan bahwa "orang yang tinggal di kota lebih cenderung memiliki gangguan mood atau kecemasan". Dengan lebih dari setengah populasi dunia yang tinggal di kota, kehidupan di kota, terkhusus kota-kota besar seharusnya menjadi perhatian besar. Utamanya pada ruang publik dengan akses yang mudah, nyaman, dan dengan keindahan yang sebisa mungkin dapat memanjakan mata dan menghilangkan penat warganya.
Era renaisans mungkin telah lama berakhir, namun terdapat amat sangat banyak pelajaran yang bisa kita terapkan di kehidupan modern dewasa ini. Salah satunya dengan pembangunan yang mementingkan kepentingan bersama dan dalam menemukan makna kehidupan di balik sebuah keindahan. Era renaisans mengedepankan kemajuan berbasis memanusiakan manusia, orang-orang menjadi saling berbaur dan bahu-membahu membangun kehidupan komunal yang harmonis dan sarat makna. Di zaman sekarang, era modern berbasis teknologi dan digital mengedepankan kecepatan, namun mengeliminasi upaya-upaya baik dan tidak lagi mementingkan keindahan dalam menemukan makna. Akibatnya, masyarakatnya harus menjalani kehidupan individual yang sarat kesenjangan dan merasa terkucilkan.

Komentar
Posting Komentar